11 Juni 2013

Mali, Negeri Uranium Jadi Rebutan

Sabili - Negara-Negara Dunia Dukung Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di MaliSejumlah Perusahaan Raksasa Masih Tunda Ekspansi.

Sejumlah negara kuat dunia telah mengirimkan sinyal dukungan mereka terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengerahkan pasukan penjaga perdamaian di Mali. PBB akan mengambil alih tanggung jawab keamanan Mali dari pasukan Afrika.

Kesepakatan tersebut diperoleh dari konferensi yang diselenggarakan oleh Uni Eropa (UE) di Brussel, Belgia. Pertemuan itu dihadiri Uni Afrika, Komunitas Ekonomi Negara Afrika Barat (ECOWAS), PBB serta negara-negara tetangga Mali. Forum tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan serupa untuk mengatasi konflik bersenjata di Mali yang gelar Uni Afrika dan ECOWAS di Addis Ababa, pada tanggal 29 Januari lalu.

Agenda utama pertemuan Support Group untuk Mali di Brussel tersebut adalah untuk memastikan keamanan berkelanjutan dengan mendukung demokrasi, pembangunan ekonomi dan hak asasi manusia di salah satu negara termiskin di dunia itu.

Sebelumnya, anggota Dewan Keamanan PBB, dalam sidang di New York, Senin, 14 Januari 2013, memberikan dukungan atas intervensi militer Perancis di Mali untuk memerangi “pemberontak muslim” di negara itu.

Kelompok Militan muslim yang ditengarai punya hubungan dengan Al-Qaida mulai merangsak ke bagian selatan negara itu. Sidang Dewan Keamanan PBB itu digelar atas permintaan Perancis.

Pihak berwenang Perancis mengatakan, mereka khawatir bahwa pemberontak akan bergerak menuju ibu kota Mali, Bamako, dan menciptakan ancaman keamanan serius bagi kawasan yang lebih luas.

“Intinya sekarang adalah untuk memenangkan perdamaian,” kata Pascal Canfin, Menteri Pembangunan Perancis, dihadapan utusan PBB dan Uni Afrika bersama dengan 45 delegasi dari pemerintah, lembaga-lembaga donor dan bantuan internasional dalam penutupan konferensi tersebut.

”Operasi militer terus berlanjut tetapi kita harus melihatnya dalan kerangka jangka panjang.”

“Kita harus merebut kembali seluruh Mali, tetapi masa depan hanya akan dijamin jika ada dialog politik antara rakyat dan pembangunan ekonomi,” lanjutnya.

Pertemuan Brussel itu menyambut keberhasilan pasukan Perancis mengusir para militan itu keluar dari kota-kota di wilayah utara yang dikuasai mereka sejak 10 bulan yang lalu. Forum itu juga menyambut tawaran pemerintah Mali untuk menyelenggarakan pemilihan umum pada 31 Juli.

“Proses pemilu yang jujur dan bebas, kembali ke tatanan konstitusional secara penuh dan dialog nasional yang benar-benar inklusif adalah kunci untuk mengatasi ketidakstabilan di Mali dan mengembalikan keamanan dan pembangunan di wilayah Sahel,” katanya dalam pernyataan akhir pertemuan tersebut seperti dilansir AlJazeera, Rabu ini.

Tieman Coulibaly, menteri luar negeri Mali, menyatakan dukungannya terhadap langkah tersebut, sementara Canfin mengatakan ada “dukungan bersama oleh pemain kunci untuk bergerak menuju misi perdamaian”.

“Dalam jangka pendek, kami ingin melihat AFISMA (pasukan bantuan internasional) dikerahkan sehingga tentara Perancis bisa pergi,” ujar Coulibaly.


Desire Kadre Ouedraogo, President Komisi ECOWAS Blok Afrika Barat menyatakan bahwa organisasinya dan Uni Afrika yakin penjaga perdamaian harus segera dihadirkan. Para diplomat mengatakan ada kebutuhan mendesak tentara PBB untuk mengamankan negara tersebut. Sementara Uni Eropa sudah mengajukan rencana misi militer untuk melatih tentara Mali.

Pembicaraan di Brussel ini dilakukan setelah Laurent Fabius, Menteri Luar Negeri Perancis mengatakan 4.000 serdadunya mungkin akan keluar dari negara Afrika Barat itu pada awal bulan depan.

Perancis mengaku pasukannya berhasil membunuh “ratusan pemberontak militan” di bekas negeri jajahannya itu baik melalui gempuran udara maupun serangan darat, di kawasan pegunungan terpencil dekat perbatasan Aljazair

Sejumlah Perusahaan Raksasa Tunda Ekspansi
Produsen emas terbesar di Afrika, AngloGold Ashanti Ltd. (ANG.JO) menyatakan pada Rabu waktu setempat bahwa perusahaan tersebut menghentkan salah satu rencana ekspansinya di Mali bagian utara yang tengah bergejolak.

“AngloGold mengoperasikan sejumah tambang emas di negara tersebut. Kendatipun lokasi tambang masih jauh dari area konflik, perusahan tersebut bersikap hati-hati dalam investasi,” kata Wakil Eksekutif Presiden Afrika Kontinental Richard Duffy, sebagaimana dilansir Foxbusiness, Rabu (6/2).

AngloGold Ashanti Ltd. (ANG.JO) adalah perusahaan emas terbesar di Afrika yang bermarkas di Johannesburg. Akhir tahun lalu Reuters melaporkan, seorang pengacara Afrika Selatan mengajukan gugatan class action terhadap lebih dari 30 perusahaan emas, termasuk Anglogold. Pengacara tersebut mewakili 17.000 eks penambang yang mengaku tertular penyakit silicosis paru akibat kelalaian kesehatan dan jaminan keselamatan.

Morila adalah tambang emas yang menghasikan 85 ribu-95 ribu ons per tahun, berlokasi sekitar 180 km bagian tenggara Bamako, ibu kota Mali. Maskapai tersebut mengincar tambang emas Yatela dan Sadiola. Keduanya berlokasi di Barat Laut Mali.

AngloGold sebenarnya berencana mengeluar dana 400 juta dollar Amerika berpartner bisnis dengan IAMGOLD yang bermarkas di Toronto Kanada untuk membeli area tambang Sadiola. Tapi bulan lalu IAMGOLD yang telah memiliki tambang Sadiola dan Yatela di Mali bagian barat ini menegaskan tidak akan melanjutkan ekspansi di Mali untuk sementara waktu.

Banyak perusahaan yang mengambil sikap hati-hati di wilayah tersebut. Maskapai migas raksasa terbesar di Italia Eni S.p.A (E) akhir bulan lalu juga mengembalikan lima lisensi eksplorasi di Mali lantaran tak ada jaminan keamanan di area tersebut. Keputusan perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki BP Paribas, sebuah group perbankan raksasa bermarkas di Paris itu dibuat sebelum Perancis mengumumkan kampanye militer melawan pemberontak, 11 Januari lalu.

"Kita bisa terus beroperasi… tapi kita menunda proyek sementara waktu sampai ada kejelasan kondisi di Mali,” tegas Duffy. Dia juga menyatakan pemerintah Mali terus berjalan dan tidak vakum.

Duffy juga mengatakan, selain penambangan di Afrika Selatan, wilayah Afrika secara keseluruhan sangat penting bagi kemajuan produksi Anglogold. Kini Afrika Selatan menjadi basis produksi terbesar perusahaan tersebut.

Belum lama ini, Areva SA (AREVA.FR), perusahaan nuklir milik pemerintah Perancis segera bekerjasama dengan pemerintah Nigeria untuk memperkuat keamanaan tambang uranium di Negara tersebut. Menyusul intervensi militer Perancis di Mali.

“Kami mengambil sejumlah langkah bersama Pemerintah Nigeria untuk memperkuat keamanan operasi kami,” ujar Luc Oursel, Kepala Eksekutif Perusahaan tersebut di Channel Radi Perancis, BFM.

Warga Negara Perancis yang bekerja di perusahaan uranium tersebut pernah ditembak pada September 2010. Satu pegawai dari Areva dan tiga pegawai dari French construction group Vinci (DG.FR) masih disandera oleh kelompok militan di daerah Sahel.(nu/sbl)

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

IKLAN BENGKULU

IKLAN BENGKULU UTARA

IKLAN LEBONG